Category Archives: Berita MICE

Kolaborasi Cina dan Yogyakarta Untuk Tarik Wisatawan

Selasa, 2 Desember 2008 | 15:38 WIB

YOGYAKARTA, SELASA — China mengajak Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bekerja sama di bidang pariwisata, kebudayaan, dan perdagangan untuk mempererat hubungan kedua negara, Indonesia, khususnya DIY, dan China.
   
Hal itu terungkap dalam pertemuan Duta Besar China untuk Indonesia Zhang Qiyue dan Wakil Gubernur (Wagub) DIY Paku Alam IX di Kepatihan Yogyakarta, Selasa (2/12). Zhang Qiyue menyatakan, sebagai dubes baru dirinya ingin melanjutkan hubungan baik yang sudah terjalin selama ini antara Indonesia dan China. “Hubungan bilateral kedua negara pada masa mendatang diharapkan lebih erat dan lebih berkembang,” ujarnya.
   
Khusus kerja sama di bidang pariwisata pihaknya akan mencoba mendorong masyarakat China untuk berkunjung ke Yogyakarta, sedangkan di sektor perdagangan akan membantu merekomendasikan para pengusaha China menanamkan investasinya ke DIY.
    
Sementara itu, Wagub DIY Paku Alam IX mengatakan, hubungan perdagangan, pariwisata, dan kebudayaan antara Indonesia, khususnya DIY, dan China hendaknya dapat ditingkatkan lagi karena banyak potensi DIY yang bisa dijual ke China.
    
Misalnya bidang pariwisata, jika sudah terjalin kerja sama yang baik, akan mampu menarik minat wisatawan China berkunjung ke Yogyakarta Paku Alam IX kemudian menawarkan kerja sama dalam bentuk sister city atau sister province karena hingga saat ini antara DIY dan China belum ada kerja sama seperti itu.
    
“Untuk menunjang rencana itu, saat ini sudah ada penerbangan langsung dari Yogyakarta ke luar negeri, seperti ke Malaysia, dan mulai 16 Desember akan dibuka jalur penerbangan Yogyakarta-Singapura,” ujarnya.
   
Pemerintah Provinsi DIY ke depan juga akan mengembangkan Bandara Adisutjipto agar semua maskapai penerbangan dari berbagai negara dapat terbang ke Yogyakarta.

MBK
Sumber : Antara

 

Tinggalkan komentar

Filed under Berita MICE

Indonesia Japan Expo : Ketika Kekuatan Media Memulas Sebuah Event

Perhelatan persahabatan dua negara ini tergolong sukses menghadirkan ratusan ribu pengunjung. Media, jadi kekuatan sentral mobilisasi pengunjung, selain faktor pengemasan acara yang menarik dan fanatisme yang tinggi terhadap budaya Jepang.

Berbicara soal kekuatan media jadi teringat kisah Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte yang sangat takut terhadap jurnalis bersenjata pena dibandingkan seribu tentara dengan bayonetnya. Kaisar yang sukses mengantarkan Prancis menjadi negeri yang terkenal itu begitu mempercayai kekuatan untaian tinta seorang jurnalis yang sangat dahsyat menggetarkan opini masyarakat secara ekspansif. Kalau kata Mathin Luther, media cetak adalah anugrah tebesar dari Tuhan untuk manusia selain keselamatan. Karena media cetaklah, puluhan juta jiwa masyarakat Amerika dibaptis. Mereka berbondong-bondong memeluk nasrani karena terpengaruh dari bacaan rohani yang didapat dari majalah, buku, dan traktat.

dsc_31581Perayaan 50 tahun hubungan persahabatan Indonesia-Jepang (Indonesia Japan Expo) ini pun telah membuktikannya. Tidak dipungkiri pameran yang dikemas dalam parade budaya ini sukses besar mendatangkan sekitar 150 ribu pengunjung. Media dinilai berkontribusi besar dalam mempopulerkan event ini. Tidak tanggung-tanggung, hampir setiap acara selama sembilan hari pelaksanaan, Kompas yang memang selaku penyelenggara perhelatan ini, memberitakan full pada halaman pertamanya (headline).

Ini terbukti dari kuisioner yang disebar kepada sekitar 432 responden, sebanyak 54% pengunjung mengaku mengetahui IJE dari media cetak. Dari angka tersebut, 99%-nya didominasi dari pemberitaan Kompas. Artinya, hampir seluruh pengunjung IJE datang karena pemberitaan yang terus-menerus di Kompas. Selebihnya, sekitar 1 %, mereka dapatkan dari Warta Kota. Keduanya memang surat kabar terbesar negeri ini. Pengaruh referensi teman berada di peringkat kedua yaitu sebesar 33% yang membuat pengunjung berbondong-bondongnya mengunjungi event tersebut.

Untuk acara pembukaan saja, jumlah pengunjung sekitar 20 ribu orang. Ini dihitung dari tiket yang terjual saja ada sebesar 15.137 orang. Selebihnya sekitar 600 orang berasal dari tamu undangan. “Untuk sebuah pameran kebudayaan, jumlah tersebut tergolong sangat besar,” tutur AdeYogaswara D, Research & Development (R&D) Dyandra Promosindo. Terlebih lagi jika dilihat dari factor lokasi pameran yang memang berada di pinggiran Jakarta, angka tersebut sangat fantastis.

Meski diakui Irvan Mahidin, Project Manager IJE, jumlah pengunjung pada hari-hari biasa tidak sebesar di hari pertama pembukaan. Jika dirata-rata terhitung 5.000 pengunjung perharinya. Menjelang weekend jumlah pengunjung rupanya merangkak naik dan mencapai puncaknya di hari akhir pameran.. Tepatnya pada Sabtu dan Minggu, 100 ribu tiket sold out (terjual habis) sehingga penyelenggara harus menambah hingga 50 ribu tiket lagi.

Rasa penasaran ingin membuktikan apa yang ditulis Kompaslah yang membuat sebagian besar pengunjung datang. Selain factor lain yaitu adanya fanatisme komunitas local pecinta budaya Jepang yang kini semakin marak bertumbuhan. Sebut saja Anime (katun), Manga (komik), Tokusatstu (jagoan kartun), cosplay (costum player/ berpakaian meniru sebuah karakter), pecinta band L’arc-en Ciel, Igo (catur Jepang) dan sebagainya. Komunitas yang ‘beranak’ dari milis ke milis ini memang memiliki kecintaan besar terhadap pernak-pernik budaya Jepang. Ikatan diantara mereka pun sangat kuat. Dimana pun dan kapanpun acara festival budaya Jepang digelar, mereka pasti datang. Ini diamini Edwin, anggota komunitas IGO yang memasang stand untuk workshop dan turnamen komunitas IGO di IJE. “Ini kesempatan kami mengenalkan IGO sekaligus ajang kumpul komunikasi IGO di Jakarta,” paparnya. Nyatanya memang, pengunjung banyak yang antusias ingin mengetahui dan mengikuti workshop gratis di standnya. Tiap harianya ada sekitar ratusan pengunjung berkunjung ke standnya untuk tanya-tanya ataupun ingin belajar IGO.

Sebagai sebuah media besar, Kompas pun membuat agenda setting pemberitaan tentang isu-isu hemat energi dan pemanasan global yang tengah digandrungi. Bahwa masyarakat kita sedang mencari upaya solutif terhadap permasalahan energi dan pemanasan global. Tak heran ketika kompas menulis tentang Shinkansen yaitu kereta peluru supercepat yang ramah lingkungan dan hemat energi ini membuat penasaran pembacaya. “Semula ekspektasi kami sekitar 30 ribu pengunjung bakal memadati Shinkansen. Ternyata pengunjung yang datang mencapai 50 ribu orang,” ungkap Irvan yang mengaku cukup kerepotan mengantisipasi membludaknya pengunjung kereta berkapasitas 400 orang itu. “Kalo Indonesia punya kereta ini, saya akan berhenti naik kendaraan pribadi,” ujar salah seorang pengunjung yang mengakui penasaran ingin melihat Shinkansen setelah membaca tulisan Kompas.

Shinkansen memang menjadi daya tarik sangat ampuh pada expo yang digelar dalam expo itu. Begitu puladsc_3182 ketika Kompas memberitakan upaya menyelematkan lingkungan melalui rumah ramah lingkungan yang divisualisasikan pada stand NEDO (New Energy and Industrial Technology Development), pengunjung pun banyak yang mencari-cari. Ade Yogasara kerap menemui pengunjung yang menanyakan lokasi stand bervisualisasi rumah khas Jepang itu.

Nedo sebagai sebuah lembaga yang mempunyai misi meningkatkan daya saing produk Jepang dalam pemanfaatan energi untuk mengatasi masalah lingkungan itu, memberikan solusi kepada pengunjung bahwa upaya itu bisa dilakukan dari dalam rumah. Mulai dari memilih perabotan rumah yang hemat energi hingga desain interior yang ramah lingkungan. Dalam stand itu pengunjung juga diajak untuk merasakan sensasi berada di dalam rumah Jepang sambil mengikutii segala tata caranya. Desain interior yang menarik dan terdapat unsure pelibatan pengunjung inilah NEDO terpilih sebagai stand terbaik.

Mobil electric, i-MIEV (Mitsubishi Innovative Electric Vehicle) yang ditampilkan Mitsubishi Corporation pun cukup mengundang keingintahuan pengunjung. Selama ini i-MIEV hanya ramai dalam diskusi di media. Di IJE, mobil berbahan baker listrik itu benar-benar dihadirkan. Bukan itu saja, pengunjung dapat sepuasnya tes drive di area open space yang disediakan. Kompas pun mengulasnya dengan begitu gamblang mempromosikan kecanggihan mobil yang bakal diluncurkan 2009 nanti.

Jika ditilik lagi, meski Kompas adalah penyelenggara pesta akbar dua bangsa ini tentu tidaklah melulu mem-blow up eventnya secara jor-joran bila sesungguhnya dinilai tidak menarik. Pertama, bolehlah pemberitaan Kompas berhasil mempersuasi pengunjung untuk datang. Begitu didatangi, rupanya pengunjung berkesan terhadap materi pameran dan acara yang ditampilkan. Survey pun menunjukkan, 26,2% pengunjung menilai program acara tersebut sangat baik. Penilaian tersebut menduduki peringkat kedua. Peringkat pertamanya, sebesar 30,1% adalah banyaknya produk yang ditampilkan yang sebagian besar belum pernah dilihat pengunjung.

Unsur kebaruan memang menjadi daya tarik diberitakannya suatu peristiwa. Dan, IJE memenuhi kebutuhan media itu. Contohnya, kereta super cepat, Shinkansen, kemudian Rumah Hantu (Obake), mobil elektrik i-MIEV untuk tes drive, aneka produk elektronik hemat energi, dan berbagai workshop kesenian Jepang serta aneka produk makanan baru dari industri manufaktur Jepang. Tak sedikit pengunjung yang diajak bereksperimen mencoba berbagai produk tersebut.

Selain itu, aneka hiburan kesenian dan budaya Jepang yang ditampilkan rupanya mampu menciptakan atmosfer yang menghidupkan suasana. Unsur hiburan dan materi pameran itu ternyata saling menguatkan. “Di sini, pengunjung benar-benar berwisata pameran,” ujar Irvan yang semula tidak menyangka jumlah pengunjung dapat melampaui dari yang ditargetkan yaitu sebesar 100 ribu orang.

Pengemasan program yang melibatkan partispasi aktif pengunjung sungguh berperan menjadikan event ini berbeda. Dari berbagai festival kesenian dan kebudayaan yang digelar, umumnya pengunjung hanya melihat secara pasif. Di IJE, semua pengunjung diundang untuk terlibat aktif merasakan soul-nya budaya Jepang. Seperti mereka bisa merasakan mengenakan kimono, ikut dalam kontes Harajuku yaitu fashion Jepang yang bergaya penuh kreativitas sehingga terlihat nyeleneh karena pakaian dengan warna-warni tabrakan dipadu dengan rambut bercat tidak beraturan, ikut memegang lampion, mengikuti kontes cosplay (costum player) dengan menirukan karakter tokoh idola jagoan animasi Jepang, dan sebagainya. Satu lagi dari berbagai atraksi kebudayaan yang ditampilkan tersebut benar-benar dimainkan oleh orang Jepang. Nihon No Matsuri contohnya. Ini adalah festival Jepang terlengkap dari yang pernah ada. Arak-arakan parade lampion dan lentera ini pun masuk pemberitaan Kompas halaman pertama.

Persahabatan Indonesia–Jepang rupanya tidak hanya sebatas pada kertas MOU (Memorandum of Understanding) proyek investasi dan berujung di meja-meja diplomasi, justru akulturasi budaya yang telah menguat diantara dua negara ini menjadi jiwa yang terus mempertautkan. Di Indonesia Japan Expo itulah atmosfer persahabatan dua negara itu benar-benar menyempurnakan bentuknya.

Tinggalkan komentar

Filed under Berita MICE, Hotel MICE

Ganti Logo, Pentawira Makin Mantap di Jalurnya

Logo yang terpatri pada suatu perusahaan tidaklah sekedar berfungsi sebagai tanda pengenal, tetapi juga cermin jati diri kehidupan perusahaan di masa sekarang dan mendatang. Ada goal besar yang ingin diraih dari pemilik logo untuk suatu pencapaian. Tak heran jika logo pun kerap dipandang memiliki nilai kesakralan tertentu yang mengandung unsur keberuntungan. Filosofi ini rupanya menjadi perhatian perusahaan kontraktor ternama negeri ini, PT Pentawira Cipta Indonesia.

Tepat di tahun ke-13, Egi Kristian, menahkodai perusahaan kontraktor yang pada Indonesia International Motor Show (IIMS) 2008 meraih kontraktor stand terbaik atas produk Honda motor. Di usia yang beranjak belia ini, Egi merasa sangat perlu menancapkan brand-nya untuk tampil semakin percaya diri. Salah satunya adalah dengan mengganti logo yang lebih mencerminkan core bisnis sebagai kontraktor stan. Meski saat ini dunia MICE berkembang pesat, Pentawira tetap tidak akan tergiur untuk menerjuni bidang lain. “ Kita tidak akan tergoda untuk menjadi event organizer dan sebagainya. Kita ingin dikenal sebagai kontraktor stan yang terbaik,” tandas Egi saat peluncuran logo barunya.

Visualiasasi logo yang masih merupakan deretan huruf bertuliskan pentawira berwarna hitam pekat ini memang terlihat lebih matang dan fokus. Bukan itu saja, untuk momen peluncurannya pun Egi sangat memperhatikan aspek angka pada tanggal, bulan, tahun, sampai detik. Siapa tahu, logo yang baru di waktu yang pas, terus membuahkan keberuntungan, Egi berharap. Tepat tanggal 28 bulan 8 tahun 2008 pukul 20:08, sirene yang menandai lahirnya logo itu pun berbunyi. “Semoga menjadi lebih baik untuk semua! “ pekik Egi.

Tinggalkan komentar

Filed under Berita MICE

Melbourne Convention and Exhibition Centre (MCEC) Raih Penghargaan

Lagi, Melbourne Convention and Exhibition Centre (MCEC), mencetak prestasi setelah sebelumnya di bulan Mei 2008, gedung pameran dan konvensi yang terletak di sebelah selatan Sungai Yarra dinobatkan oleh GBCA (Green Building Council of Australia) sebagai “The 6 Star Green Star Environmental”. Sebuah prestasi yang sangat bergengsi karena sebagai convention centre, MCEC lah yang pertama di dunia yang berkesempatan meraihnya.

Masih di tahun yang sama, tepatnya September 2008, MCEC kembali mendulang pernghargaan sebagai convention centre yang memiliki manajemen dengan performa excellent. Tidak tanggung-tanggung, AIPC (International Association of Congress Centre) yang beranggotakan lebih dari 49 negara ini langsung memberikannya predikat gold sebagai bentuk pencapaian yang mendekati sempurna. Penghargaan ini lagi-lagi yang pertama kalinya disandang untuk sekelas convention centre yang ada di seluruh dunia.

Ada 10 kriteria penilaian manajemen yang menjadi acuan AIPC Quality standard yaitu pelayanan terhadap klien, kualitas dari fasilitas dan pengelolaan yang professional, hubungan dengan karyawannya, kesehatan, keamanan dan kenyamanan, kecepatan dalam merespon keadaan darurat, keadaan keuangan, hubungan dengan masyarakat sekitar, kepedulian terhadap lingkungan alama, juga aspek hubungan dengan pemain di industrinya dan para supplier yang mendukung aktivitas MICE.

Pemerintah bagian Victoria yang memilki gedung seluas 100 ribu m2 ini memang pantas berbangga. Setidaknya ini menjadi buah keberhasilan dari kepedulian yang begitu tinggi dari pemerintah di sana untuk menjadikan Melbourne sebagai tujuan wisata MICE berkelas dunia. Tak usah khawatir dengan investasi besar demi mewujudkan sebuah mimpi yang juga besar. Terbukti Investasi sebesar 1,4 Miliar dolar Ausralia pun kini tengah berbuah manis. Bagaimana dengan gedung convention kita ? sepertinya gedung-gedung pertemuan di Indonesia harus banyak belajar dari MCEC.

Tinggalkan komentar

Filed under Berita MICE

Iperkahri Gelar Tarawih Keliling Hotel

Untuk mempererat silahturahim antar karyawan muslim Hotel, Ikatan Pembina Rohani Karyawan Hotel dan Restoran Indonesia (Iperkahri) selama bulan Ramadhan menggelar salat tarawih dan ceramah agama (taushiyah) untuk karyawan dan masyarakat umum di hotel bintang 4 dan 5 di Jakarta. Dari 60 hotel di DKI yang menjadi anggota Iperkahri, hanya 10 hotel yang ditetapkan sebagai tempat penyelenggaraan. Pemilihan ini berdasarkan dari kesediaan hotel yang bersangkutan dan waktu penyelenggaraan yang memang hanya dapat dilaksanakan tiga kali dalam seminggu selama sebulan. Kesepuluh hotel tersebut adalah Hotel Sari Pan Pasific, Hotel Bumi Karsa-Bidakara, Hotel Crown, Kartika Chandra, Hotel Sultan, Hotel Ambara, Hotel Haris-Sahardjo, Grand Tropical Hotel dan Granc Cempaka.

Uniknya, penyelenggaraan salat Tarawih tidak dilaksanakan di mesjid dalam hotel melainkan di ballroomnya. Alasannya bukan karena mesjid tidak dapat menampung sekitar lebih dari 200 jamaah, melainkan menurut Rusli W. Permana, ketua Iperkahri DKI Jakarta, dimaksudkan untuk mengeliminasi citra negatif sebagian masyarakat terhadap hotel yang dipandang jauh dari unsur moral agama. Untuk penggunaan ball room pun sama sakali tidak dikenakan charge. “ Ini murni fungsi social dari hotel tersebut,” tandas Rusli.

Sebelum pelaksanaan tarawih, Iperkahri memfasilitasi hotel yang bersangkutan dengan mengundang sekitar 25 anak yatim binaan hotel atau sejumlah yayasan untuk buka puasa bersama dan pemberian hadiah berupa bingkisan dan uang.

Sebagai wadah pembinaan ruhani dan peningkatan kualitas karyawan hotel dan restoran, sejak 1982 Iperkahri aktif melakukan berbagai kegiatan baik yang bersifat agamis maupun umum. Seperti pengajian lepas kerja, kursus khotif, kursus protocol dan MC, kursus bahasa Arab, dan kegiatan social lainnya. Untuk penyelenggaraan semuanya dilakukan di ruang-ruang meeting hotel dan hanya dikenakan charge untuk coffee break dan makan.

Tinggalkan komentar

Filed under Berita MICE