Indonesia Japan Expo : Ketika Kekuatan Media Memulas Sebuah Event

Perhelatan persahabatan dua negara ini tergolong sukses menghadirkan ratusan ribu pengunjung. Media, jadi kekuatan sentral mobilisasi pengunjung, selain faktor pengemasan acara yang menarik dan fanatisme yang tinggi terhadap budaya Jepang.

Berbicara soal kekuatan media jadi teringat kisah Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte yang sangat takut terhadap jurnalis bersenjata pena dibandingkan seribu tentara dengan bayonetnya. Kaisar yang sukses mengantarkan Prancis menjadi negeri yang terkenal itu begitu mempercayai kekuatan untaian tinta seorang jurnalis yang sangat dahsyat menggetarkan opini masyarakat secara ekspansif. Kalau kata Mathin Luther, media cetak adalah anugrah tebesar dari Tuhan untuk manusia selain keselamatan. Karena media cetaklah, puluhan juta jiwa masyarakat Amerika dibaptis. Mereka berbondong-bondong memeluk nasrani karena terpengaruh dari bacaan rohani yang didapat dari majalah, buku, dan traktat.

dsc_31581Perayaan 50 tahun hubungan persahabatan Indonesia-Jepang (Indonesia Japan Expo) ini pun telah membuktikannya. Tidak dipungkiri pameran yang dikemas dalam parade budaya ini sukses besar mendatangkan sekitar 150 ribu pengunjung. Media dinilai berkontribusi besar dalam mempopulerkan event ini. Tidak tanggung-tanggung, hampir setiap acara selama sembilan hari pelaksanaan, Kompas yang memang selaku penyelenggara perhelatan ini, memberitakan full pada halaman pertamanya (headline).

Ini terbukti dari kuisioner yang disebar kepada sekitar 432 responden, sebanyak 54% pengunjung mengaku mengetahui IJE dari media cetak. Dari angka tersebut, 99%-nya didominasi dari pemberitaan Kompas. Artinya, hampir seluruh pengunjung IJE datang karena pemberitaan yang terus-menerus di Kompas. Selebihnya, sekitar 1 %, mereka dapatkan dari Warta Kota. Keduanya memang surat kabar terbesar negeri ini. Pengaruh referensi teman berada di peringkat kedua yaitu sebesar 33% yang membuat pengunjung berbondong-bondongnya mengunjungi event tersebut.

Untuk acara pembukaan saja, jumlah pengunjung sekitar 20 ribu orang. Ini dihitung dari tiket yang terjual saja ada sebesar 15.137 orang. Selebihnya sekitar 600 orang berasal dari tamu undangan. “Untuk sebuah pameran kebudayaan, jumlah tersebut tergolong sangat besar,” tutur AdeYogaswara D, Research & Development (R&D) Dyandra Promosindo. Terlebih lagi jika dilihat dari factor lokasi pameran yang memang berada di pinggiran Jakarta, angka tersebut sangat fantastis.

Meski diakui Irvan Mahidin, Project Manager IJE, jumlah pengunjung pada hari-hari biasa tidak sebesar di hari pertama pembukaan. Jika dirata-rata terhitung 5.000 pengunjung perharinya. Menjelang weekend jumlah pengunjung rupanya merangkak naik dan mencapai puncaknya di hari akhir pameran.. Tepatnya pada Sabtu dan Minggu, 100 ribu tiket sold out (terjual habis) sehingga penyelenggara harus menambah hingga 50 ribu tiket lagi.

Rasa penasaran ingin membuktikan apa yang ditulis Kompaslah yang membuat sebagian besar pengunjung datang. Selain factor lain yaitu adanya fanatisme komunitas local pecinta budaya Jepang yang kini semakin marak bertumbuhan. Sebut saja Anime (katun), Manga (komik), Tokusatstu (jagoan kartun), cosplay (costum player/ berpakaian meniru sebuah karakter), pecinta band L’arc-en Ciel, Igo (catur Jepang) dan sebagainya. Komunitas yang ‘beranak’ dari milis ke milis ini memang memiliki kecintaan besar terhadap pernak-pernik budaya Jepang. Ikatan diantara mereka pun sangat kuat. Dimana pun dan kapanpun acara festival budaya Jepang digelar, mereka pasti datang. Ini diamini Edwin, anggota komunitas IGO yang memasang stand untuk workshop dan turnamen komunitas IGO di IJE. “Ini kesempatan kami mengenalkan IGO sekaligus ajang kumpul komunikasi IGO di Jakarta,” paparnya. Nyatanya memang, pengunjung banyak yang antusias ingin mengetahui dan mengikuti workshop gratis di standnya. Tiap harianya ada sekitar ratusan pengunjung berkunjung ke standnya untuk tanya-tanya ataupun ingin belajar IGO.

Sebagai sebuah media besar, Kompas pun membuat agenda setting pemberitaan tentang isu-isu hemat energi dan pemanasan global yang tengah digandrungi. Bahwa masyarakat kita sedang mencari upaya solutif terhadap permasalahan energi dan pemanasan global. Tak heran ketika kompas menulis tentang Shinkansen yaitu kereta peluru supercepat yang ramah lingkungan dan hemat energi ini membuat penasaran pembacaya. “Semula ekspektasi kami sekitar 30 ribu pengunjung bakal memadati Shinkansen. Ternyata pengunjung yang datang mencapai 50 ribu orang,” ungkap Irvan yang mengaku cukup kerepotan mengantisipasi membludaknya pengunjung kereta berkapasitas 400 orang itu. “Kalo Indonesia punya kereta ini, saya akan berhenti naik kendaraan pribadi,” ujar salah seorang pengunjung yang mengakui penasaran ingin melihat Shinkansen setelah membaca tulisan Kompas.

Shinkansen memang menjadi daya tarik sangat ampuh pada expo yang digelar dalam expo itu. Begitu puladsc_3182 ketika Kompas memberitakan upaya menyelematkan lingkungan melalui rumah ramah lingkungan yang divisualisasikan pada stand NEDO (New Energy and Industrial Technology Development), pengunjung pun banyak yang mencari-cari. Ade Yogasara kerap menemui pengunjung yang menanyakan lokasi stand bervisualisasi rumah khas Jepang itu.

Nedo sebagai sebuah lembaga yang mempunyai misi meningkatkan daya saing produk Jepang dalam pemanfaatan energi untuk mengatasi masalah lingkungan itu, memberikan solusi kepada pengunjung bahwa upaya itu bisa dilakukan dari dalam rumah. Mulai dari memilih perabotan rumah yang hemat energi hingga desain interior yang ramah lingkungan. Dalam stand itu pengunjung juga diajak untuk merasakan sensasi berada di dalam rumah Jepang sambil mengikutii segala tata caranya. Desain interior yang menarik dan terdapat unsure pelibatan pengunjung inilah NEDO terpilih sebagai stand terbaik.

Mobil electric, i-MIEV (Mitsubishi Innovative Electric Vehicle) yang ditampilkan Mitsubishi Corporation pun cukup mengundang keingintahuan pengunjung. Selama ini i-MIEV hanya ramai dalam diskusi di media. Di IJE, mobil berbahan baker listrik itu benar-benar dihadirkan. Bukan itu saja, pengunjung dapat sepuasnya tes drive di area open space yang disediakan. Kompas pun mengulasnya dengan begitu gamblang mempromosikan kecanggihan mobil yang bakal diluncurkan 2009 nanti.

Jika ditilik lagi, meski Kompas adalah penyelenggara pesta akbar dua bangsa ini tentu tidaklah melulu mem-blow up eventnya secara jor-joran bila sesungguhnya dinilai tidak menarik. Pertama, bolehlah pemberitaan Kompas berhasil mempersuasi pengunjung untuk datang. Begitu didatangi, rupanya pengunjung berkesan terhadap materi pameran dan acara yang ditampilkan. Survey pun menunjukkan, 26,2% pengunjung menilai program acara tersebut sangat baik. Penilaian tersebut menduduki peringkat kedua. Peringkat pertamanya, sebesar 30,1% adalah banyaknya produk yang ditampilkan yang sebagian besar belum pernah dilihat pengunjung.

Unsur kebaruan memang menjadi daya tarik diberitakannya suatu peristiwa. Dan, IJE memenuhi kebutuhan media itu. Contohnya, kereta super cepat, Shinkansen, kemudian Rumah Hantu (Obake), mobil elektrik i-MIEV untuk tes drive, aneka produk elektronik hemat energi, dan berbagai workshop kesenian Jepang serta aneka produk makanan baru dari industri manufaktur Jepang. Tak sedikit pengunjung yang diajak bereksperimen mencoba berbagai produk tersebut.

Selain itu, aneka hiburan kesenian dan budaya Jepang yang ditampilkan rupanya mampu menciptakan atmosfer yang menghidupkan suasana. Unsur hiburan dan materi pameran itu ternyata saling menguatkan. “Di sini, pengunjung benar-benar berwisata pameran,” ujar Irvan yang semula tidak menyangka jumlah pengunjung dapat melampaui dari yang ditargetkan yaitu sebesar 100 ribu orang.

Pengemasan program yang melibatkan partispasi aktif pengunjung sungguh berperan menjadikan event ini berbeda. Dari berbagai festival kesenian dan kebudayaan yang digelar, umumnya pengunjung hanya melihat secara pasif. Di IJE, semua pengunjung diundang untuk terlibat aktif merasakan soul-nya budaya Jepang. Seperti mereka bisa merasakan mengenakan kimono, ikut dalam kontes Harajuku yaitu fashion Jepang yang bergaya penuh kreativitas sehingga terlihat nyeleneh karena pakaian dengan warna-warni tabrakan dipadu dengan rambut bercat tidak beraturan, ikut memegang lampion, mengikuti kontes cosplay (costum player) dengan menirukan karakter tokoh idola jagoan animasi Jepang, dan sebagainya. Satu lagi dari berbagai atraksi kebudayaan yang ditampilkan tersebut benar-benar dimainkan oleh orang Jepang. Nihon No Matsuri contohnya. Ini adalah festival Jepang terlengkap dari yang pernah ada. Arak-arakan parade lampion dan lentera ini pun masuk pemberitaan Kompas halaman pertama.

Persahabatan Indonesia–Jepang rupanya tidak hanya sebatas pada kertas MOU (Memorandum of Understanding) proyek investasi dan berujung di meja-meja diplomasi, justru akulturasi budaya yang telah menguat diantara dua negara ini menjadi jiwa yang terus mempertautkan. Di Indonesia Japan Expo itulah atmosfer persahabatan dua negara itu benar-benar menyempurnakan bentuknya.

Tinggalkan komentar

Filed under Berita MICE, Hotel MICE

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s