Sebuah Petualangan Baru Untuk yang Hobi Meeting di Kafe

Inilah tren baru kalangan eksekutif di kota metropolitan. Semboyan waktu adalah uang memang begitulah adanya. Orang semakin berkompetisi dengan waktu. Serba cepat dan praktis menjadi gaya hidup yang menggelayut begitu rentetan target proyek mendesak dipenuhi. One stop service pun jadi tagline yang semakin laris manis digelontorkan. Sebut saja SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) Pertamina yang tengah giat menggencarkan tagline ini kepada seluruh pelanggannya. Di area SPBU itu kini Anda dapat menjumpai bukan saja toilet, mushollah, minimarket, tetapi juga kafe yang sekaligus menjadi meeting point yang seru juga untuk dicoba.

dsc_22766Sambil mengisi bahan bakar, Anda bisa bersantai-santai di kafe menikmati hidangan ringan yang lezat sekaligus ber-wifi ria secara gratis. Bahkan saking nyamannya dan praktis, membuat Amelia Putri, Business & Development PT Coca Cola Indonesia kerap mengajak timnya meeting di kafe yang dinamai Bright ini. Tempat favoritnya adalah SPBU di Jalan Pramuka lantaran letaknya tidak jauh dari kantor. Tetapi tidak jarang pula ia memakai SPBU di Gatot Subroto. “Letaknya strategis banget sehingga memudahkan kumpul dengan teman-teman untuk berkoordinasi,” ujarnya.

Baginya meeting di kafe itu sudah menjadi kebiasaan. Karena memang untuk seorang business development seperti dirinya dituntut untuk selalu kreatif. Nah, agar ide-ide kreatif itu muncul dan mengalir, mereka biasanya mencari tempat-tempat yang inspiratif dan nyaman. Tak heran jika ia kerap berpetualang dari satu kafe ke kafe lainnya. Nuansa yang santai apalagi makanannya enak justru membuat idenya terus mengucur.

Diakui Amelia, sejak kehadiran Bright Café, frekuensi mengunjungi sejumlah kafe favoritnya dahulu telah berkurang. Alasannya lebih pada praktis dan murah dibandingkan kafe-kafe ternama lainnya. Di Bright, cukup mengeluarkan uang sekitar Rp 30 ribu untuk snack dan minuman, bahkan kurang dari itu, Anda sudah dapat berselancar di dunia maya sampai kapan pun dibutuhkan. “Saya biasanya meeting di sini pagi hari sampai makan siang sekitar jam satu atau dua,” tutur Amelia yang mengaku sudah lebih dari sepuluh kali memakai Bright Café untuk meeting.

Kalau Amelia lebih pada meeting informal, lain halnya dengan Budi Seherman, Marketing di perusahaan rokok British American Tobacco (BAT) ini juga pernah memakai Bright untuk pertemuan formal yang menghadirkan sekitar 7 orang di SPBU Jalan Industri, Kemayoran dan Gatot Subroto. Dari segi kenyamanan, lokasi dan kemudahan akses internet, Bright masih representatif. Tetapi Budi mengaku untuk meeting formal di sana masih berkendala. Diantaranya, karakteristik dinding kafe yang terbuat dari kaca akrilik justru mengganggu jika harus menampilkan slide. Cahaya matahari yang terserap dinding kafe membuat pantulan cahaya pada slide sehingga gambarnya pun menjadi tidak jelas dan fokus. Screen proyektor di jalan Gatot Subroto tidak otomatis tersedia, kecuali memesan sebelumnya. Berbeda dengan di Kemayoran yang sebagian dindingnya bisa dijadikan screen secara otomatis.

Bukan itu saja, soal privasi pria yang juga hobi meeting di kafe ini masih mencatat ada kelemahan. Karena ia hanya mengundang sekitar 7 orang rekannya sehingga kafe tidak bisa digunakan optimal alias tidak pengunjung lain bisa hilir mudik datang ke kafe yang secara langsung mengganggu kenyamanannnya. Situasi tersebut memang telah diakui Ivan Asmara, General Marketing PT Artha Mentari selaku pengelola teknis kafe dan penyuplay bahan logistic Convinience Store (C-Store). Menurutnya dengan peserta rapat yang sedikit dalam arti kurang dari 10 orang, ia tidak bisa serta merta menutup kafenya. Hitung-hitungan bisnisnya istilahnya belum nutup. Kecuali jika peseranya banyak (lebih dari 10 orang) dan ada konfirmasi satu atau dua hari sebelumnya, tentu persiapan di kafe sendiri akan lebih matang., Seperti yang dilakukan Bank Mandiri saat melakukan meeting formal di kafe Bright Jalan Gatot Subroto. Karena jumlah peserta meetingnya banyak mendekati 20 orang dan ingin lebih privasi maka untuk beberapa jam ia menutup kafenya dari pengunjung lain. .Sebagai kompensasi ditutupnya area kafe, Ivan pun meminta kesediaan peserta meeting untuk memesan makanan dari kafe. Ia melarang ada makanan lain di luar kafenya. Hal ini dilakukan sebagai kompensasi dari sewa ruangan yang digratiskan.

Meskipun begitu, harga makanan yang dipatok Bright cukup murah dan terjangkau yaitu sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 90 ribu. Contohnya, menu termurahnya adalah satu burger Bright (snack) atau nasi goreng dan minuman. Sedangkan untuk harga tertinggi yaitu Rp 90 ribu, Anda bisa mendapakan snack, teh atau kopi, soft drink dan makan siang. Soal waktu biasanya berkisar antara 2 hingga 6 jam. Kecuali untuk kepentingan di luar itu seperti syuting sinetron, PT Artha Mentari menarifkan harga sewa Rp 1,5 juta per dua jamnya. Praktis aktivits kafe dan toko untuk sementara waktu ditutup dari pengunjung lain. SPBU yang beberapa kali digunakan untuk syuting sinetron adalah SPBU di TB Simatupang. SPBU ini terbilang paling luas di Jakarta dengan luas area 4.000 meter persegi. Sedangkan untuk kafenya dibuat indoor dan outdoor. Indoornya terisi 6 sitter, sedangkan out doornya sekiatr 24 sitter.

Inspirasi dari Convinience Store (C-STORE)

Gagasan pendirian kafe ini baru diluncurkan tahun 2007 lalu. Berangkat dari konsep sebuah convenience store (C-Store) yaitu toko yang menjual barang-barang kebutuhan orang selama dalam perjalanan yang telah dikembangkan tahun 2005, Bright Cafe ini memang masih dalam tahap pematangan konsep. Awalnya pun hanya C-Store dengan mini kafe. Orang datang mengisi bahan bakar, secara sambil lalu membeli makanan dan minuman ringan, rokok, lantas duduk-duduk sebentar sembari menunggu mobilnya diisi bahan bakar atau ke toilet, kemudian pergi lagi. Lantaran itulah pada awalnya Pertamina selaku pemilik brand Bright C-Store dan Bright Café ini hanya menyediakan sekitar 4-5 kursi yang lebih difungsikan sebagai tempat transit yang letaknya berdampingan dengan C-Store. SPBU di Jati Bening, Bekasi menjadi tempat uji coba mini kafe yang berdiri di atas lahan khusus seluas 49 meter persegi.

“Rupanya sambutan pelanggan Pertamina cukup responsif. Akhirnya kita membuka lagi gerai kafe di TB Simatuoang,dsc_21466 dilanjutkan di Jalan Industri, Gatot Subroto, Kuningan dan Pramuka. Totalnya hingga saat ini baru ada 4 gerai yang benar-benar berupa café. Dalam artian, memilki luas lebih dari 60 meter persegi yang memuat sekitar 22 hingga 24 kursi,” papar Ivan. Dari keempat kafe itu semuanya berada di tingkat dua, hanya Bright di Pramuka yang berada di lantai satu berdampingan dengan C-Store.

Dalam perkembangannya kafe ini bukan saja tempat transit pengunjung SPBU untuk beristirahat, tetapi juga kerap digunakan sebagai tempat hang out. Fasilitas Wifi hingga 20 laptop, hidangan ringan yang lezat dan tidak pake lama ini, serta buka selama 24 jam memberikan angin segar bagi sejumlah kalangan yang ingin menghabiskan waktu malamnya. Tak heran jika di kafe ini tepatnya di Kuningan pernah dijadikan tempat ulang tahun. Sejumlah acara meeting dan training dari konsultan Pertamina, McKencey pun kerap diadakan di kafe yang berkapasitas maksimal untuk meeting sekitar 30 orang.

“Ini merupakan peluang yang harus kita tingkatkan baik dari segi pelayanan, format kafe, networking maupun promosinya,” terang Ivan. Sambil terus menjajaki pasar, ternyata didapat insight bahwa untuk kafe ini ke depannya akan dikembangkan ke arah meeting point yang lebih nyaman, penuh privasi, dan praktis. Selain itu, ke depannya juga kafe semuanya akan dididirkan di lantai satu. Dilihat dari psikologis pengunjung toko dan kafe yang begitu mobile, lantai 2 masih terlalu menyulitkan alias tidak praktis. Cukup format seperti di jalan Pramuka, kafe bersanding dengan toko di lantai 1. Ada sekitar 1.400 SPBU Pertamina di seluruh Indonesia. Berarti akan ada 1.400 kafe juga yang dibangun. Wah…bakal semakin ramai nih.

Tapi..eitt tunggu dulu, untuk mendirikan kafe Bright ini rupanya ada banyak pertimbangan. Makanya tidak semua SPBU yang Anda temui tidak memiliki kafe meskipun dari segi lokasi dinilai strategis. “Kalau untuk lokasi, memang kita milih bangt. Karena menyangkut juga imej Pertamina maupun pelanggannya yang ingin privasi lebih,” ungkap Ivan. Lantas SPBU yang seperti apa yang boleh mendirikan kafe ? Tidak cukup hanya dari segi kawasan dan akses, SPBU ini juga harus beromset per harinya 45 AL atau 45 ribu liter bahan baker.. Omsetnya memenuhi, tapi jika kebanyakan yang ngisi adalah angkot berbahan solar ataupun motor, tetap juga tidak bisa. Diupayakan semakin banyak yang menggunakan Pertamax akan semakin baik. Artinya, orang yang memakai Pertamax itu bisa ditebak kebanyakan adalah kendaraan roda empat berkelas B plus, sedangkan untuk C-Store masih bisa dikunjungi oleh target pasar kelas B minus. Area parkirnya pun harus dapat menampung sekitar 15 hingga 20 kendaraan. Salah satu keunggulannya lagi, parkir di area SPBU ini gratis.

Sekalipun semua syarat tersebut bisa dipenuhi, pengelola perlu juga memperhatikan standar area SPBU. Area yang luas tidak menjamin dapat mendirikan kafe. Sebagai contoh SPBU di jalan TB Simatupang, areanya cukup luas sekitar 4.000 meter persegi, tetapi untuk area C-Storenya cuma disiapkan 49 meter persegi, sehingga Pertamina pun hanya bisa membuat kafe mini dengan 4-6 tempat duduk. Area outdoor juga dibuka dengan 25 sitter, tetapi ini bukan format ideal karena masih dalam tahap penjajakan “Idealnya, saat ini kami masih merujuk pada Bright Café di Pramuka,” tambahnya. Sekalipun dipaksakan, menurut Ivan, paling tokonya diperkecil, dan kafenya dibesarkan tanpa mengurangi ukuran semula.

Bagaimana jika areanya khusus kafe dan toko ini diperluas ? logikanya bisa saja dilakukan, namun rupanya tidak semudah yang dibayangkan. Pertama, Pertamina harus ijin lagi ke Pemda, kedua, prosesnya jadi rumit karena area SPBU ini telah eksis. Dalam artian, tata letak penyimpanan bahan bakar di dalam tanah, tempat penyerapan air, mesin, space ruang terbuka, jarak dari badan jalan, dan sebagainya telah diatur sesuai standard an porsinya. Kkalau begitu, sebelum membangun SPBU, didesain saja lahan peruntukan untuk kafe dan toko. Logikanya memang bisa seperti itu. Untuk toko tidak masalah bisa langsung berdiri bersamaan dengan beroperasinya SPBU, tetapi untuk kafe tetap butuh waktu dan pengujian sesuai dengan persyaratan tadi.

Itulah sebabnya pertumbuhan C-Store tidak sebanding dengan kafe. Saat ini Pertamina baru memiliki 27 gerai C-Store. Tahun depan akan dikembangkan menjadi sekitar 40 sampai 50 gerai lagi di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, ditargetkan sekitar 12 kafe dibangun. Soal lokasinya, masih belum dapat ditentukan karena harus memenuhi persyaratan tadi. Tetapi, untuk mini kafe jika diperlukan tidak masalah didirikan.

Kafe Berselera Laki-laki

Jika dibandingkan dengan SPBU di Singapura, konsep Indonesia yang baru mengembangkan SPBU kea rah multifungsi ini memang tergolong terlambat. Kalau di Singapura, SPBU itu sudah terintegrasi dengan mini market yang menjual aneka kebutuhan rumah tangga. Di Indonesia menginat minimarket telah banyak tersebar, untuk di SPBU cukup dibangun toko yang menjual barag-barang kebutuhan pengunjung dalam perjalanan. Convinience Store menjadi format yang tepat untuk pangsa pasar SPBU Indonesia. Yaitu pangsa pasar yang didominasi laki-laki (dibanding perempuan, laki-laki masih banyak yang menyetir mobil), maka barang-barang yang dijual pun disesuaikan dengan selera laki-laki. Seperti rokok dan aneka minuman ringan.

Gaya hidup lelaki ini pula yang menginspirasi desain interior kafe yang divisualisasikan serba minimalis dan sporty. Untuk minumannya juga dinamakan khas bahan bakar Pertamina yang juga sarat dengan selera laki-laki. Seperti Premium, Pertamax, Pertamax Plus, Biosolar, Hot Mesran, Hot Prima XP Capucino. Bukan hanya sekedar nama, dari bentuknya juga disesuaikan dengan warna bahan bakar. Untuk Premium yang berwarna kuning, dibuatlah juz apel yang dicampur soda. Pertamax berwarna biru dikemas dari Pepsi Blue dicampur dengan orange. Nah untuk Pertamax Plus, campuran chery, soda dan gula cukup memberikan kesan berbeda dengan Pertamax biasa. Minuman ini sangat khas dan hanya ditemui di Bright Café.

Tinggalkan komentar

Filed under venue

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s